Rohani Katolik

Kasih Yesus Tidak Bergantung Pada Pengakuan Manusia

oleh admin pada | 2026-03-29 17:20:34 Terakhir Diperbarui oleh admin pada2026-04-18 05:06:54

Membagikan: Facebook | twitter | Whatsapp |


Kasih Yesus Tidak Bergantung Pada Pengakuan Manusia

Oleh RD. Hiro Nani (Co Pastos Kuasi Paroki Santo Petrus Haukoto)


Di tengah keriuhan dan sorak-sorai yang begitu meriah saat memasuki kota Yerusalem, Yesus memandang kota itu dengan tatapan yang berbeda; Ia melihat Yerusalem dengan keheningan yang mendalam karena sesungguhnya Ia tahu bahwa hati manusia di dalamnya belum benar-benar berubah. Yesus menyadari sepenuhnya bahwa kota itu tidak sungguh-sungguh mengerti apa yang sedang terjadi di depan mata mereka, di mana mereka memang menyambut Sang Juruselamat dengan kemeriahan, namun mereka sama sekali tidak memahami jalan keselamatan yang sesungguhnya sedang Ia bentangkan.

Sebab beberapa hari sebelumnya mereka berteriak “Hosana” Namun tidak lama kemudian, suara yang sama berubah menjadi teriakan yang berbeda “Salibkan Dia”. Peristiwa ini memperlihatkan kepada kita bahwa begitulah hati manusia jika harapan duniawinya tidak terpenuhi maka manusia bisa berubah secepat kilat dan berpaling seketika, sehingga mereka yang duluh membentangkan ranting palma di jalanan, pada akhrinya justru ikut menuntut hukuman mati yang paling keji bagi Sang Raja.

Namun Yesus tidak terkejut dengan semua yang akan terjadi di Yerusalem itu. Karena sejak awal, Ia telah mengetahui dengan jernih jalan sunyi yang harus Ia tempuh bagi keselamatan kita semua. Ia memahami sepenuhnya bahwa pujian manusia itu hanyalah keriuhan yang tidak akan bertahan lama dan akan segera sirna ditelan ketakutan serta egoisme, tetapi Ia tetap memilih untuk melangkah dengan tegar memasuki gerbang Yerusalem demi menggenapi rencana kasih yang telah ditetapkan oleh Bapa-Nya.

​Yesus sebenarnya memiliki segala kuasa untuk menghindari penderitaan itu atau menolak jalan salib yang menyakitkan, namun Ia memilih untuk tidak menggunakan kuasa-Nya demi menyelamatkan diri-Nya sendiri. Ia memilih untuk tetap berjalan menuju bukit Golgota bukan karena terpaksa oleh keadaan atau karena Ia terjebak dalam rencana manusia, melainkan murni karena ketaatan yang radikal dan kasih-Nya yang tak terukur kepada kita.

​​Ketika tiba saatnya Yesus memikul beban salib yang berat, tidak ada lagi sorakan pujian "Hosana" yang mengiringi langkah-Nya, karena jalan yang dulu ditaburi ranting palma kini telah berubah menjadi jalan penderitaan yang sangat perih dan menghinakan. Keramaian yang dulu mengelilingi-Nya tiba-tiba menghilang, hingga yang tersisa hanyalah kesunyian yang mencekam dan kayu salib yang harus dipikul-Nya sendirian di bawah tatapan mata dunia yang telah berpaling dari-Nya.


Di sinilah kita melihat bahwa kasih Yesus sama sekali tidak bergantung pada pujian atau pengakuan manusia, karena walaupun hati manusia terus berubah dan tidak setia, kasih-Nya tetap sama, kokoh, dan tidak akan pernah berubah selamanya. Ia tetap melangkah menuju kayu salib, bahkan bagi orang-orang yang telah menolak dan menghujat-Nya, sebagai bukti nyata bahwa kasih yang sejati adalah kasih yang tidak bergantung pada sorakan dunia. Manusia mungkin bisa memuji hari ini lalu melupakan besok, tetapi Yesus tetap setia berjalan menuju salib demi kita, menunjukkan sebuah cinta yang melampaui segala riuhnya dunia dan tetap teguh hingga akhir hayat-Nya.

Berbeda dengan kita hari ini, yang sering kali mendasarkan kesetiaan kita pada situasi dan kondisi yang menguntungkan saja. Kita cenderung menjadi pengikut Kristus yang penuh semangat selama hidup terasa mudah, namun dengan cepat menjadi tawar hati dan penuh keluhan ketika doa-doa kita seolah-olah tidak terjawab atau ketika beban hidup mulai menindih pundak kita. Sering kali, "Hosana" yang kita serukan hanyalah pantulan dari kegembiraan duniawi, bukan sebuah komitmen batin yang siap menanggung risiko iman di tengah badai kehidupan.

​Kita sering kali terjebak dalam iman yang mencari kenyamanan, di mana kita hanya ingin ikut ambil bagian dalam kemuliaan-Nya tanpa mau sedikit pun menyentuh kehinaan salib-Nya. Padahal, melalui peristiwa hari ini, kita diajarkan bahwa mengikuti Yesus berarti siap untuk tetap melangkah di samping-Nya, bahkan ketika sorak-sorai dunia telah senyap dan yang tersisa hanyalah jalan sunyi menuju pengorbanan.

Akhirnya saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, kiranya perayaan hari ini membawa kita pada sebuah pembaruan batin yang sungguh mendalam, di mana kita tidak lagi sekadar menjadi penonton yang bersorak di pinggir jalan Yerusalem, melainkan menjadi murid yang berani melangkah di jalan yang sama dengan Sang Juru Selamat. Sebab pada akhirnya, pengikut Kristus yang sejati tidak dikenal dari seberapa keras ia berteriak memuji-Nya di saat fajar kemenangan, melainkan dari seberapa teguh ia tetap berdiri di samping-Nya dalam gelapnya malam penderitaan. Biarlah pengenalan kita akan kasih-Nya yang tanpa syarat itu, membangkitkan sebuah keberanian baru di dalam batin kita untuk tidak lagi berpaling melarikan diri, tetapi tetap melangkah maju bersama-Nya, melintasi setiap sunyinya jalan hidup menuju kebangkitan yang telah Ia janjikan.



Tinggalkan Komentar