oleh admin pada | 2025-12-28 19:49:54 Terakhir Diperbarui oleh admin pada2026-02-20 16:38:38
TTU,PNN-Provinsi NTT merupakan provinsi dengan banyak pulau dan potensi lahan kering yang sangat luas. Data statistik menunjukkan terdapat 3,26 juta hektar lahan yang belum tergarap maksimal atau sering disebeut juga sebagai lahan tidur. Padahal sangat banyak potensi yang bisa dikembanagkan untuk mengelola lahan itu menjadi berdaya guna dan bernilai ekonomis. Berbagai upaya pemerintah maupun swasta dikerahkan untuk dapatmemberdayakan lahan-lahan tersebut menjadi lebih bermanfaat dan bernilai ekonomis.
Falentinus Funan bersama istrinya Florensiana Keke Usfinit adalah salah satu keluarga yang melihat peluang ini sebagai cara untuk mendongkrak perekonomian keluarga. Pasangan asal Desa Bannae Kecamatan Insana Barat Kabupaten TTU Provinsi NTT ini merintis usaha agribisnis bidang pertanian, dengan mengubah lahan tidur menjadi lahan pertanian cabai yang cukup menjanjikan.
Menurut Falentinus, selama ini ia berprofesi sebagai tukang ojek dan bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sedangkan istrinya adalah seorang guru swasta yang seharian mengajar di SMPK St. Petrus Oelolok. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka perlu mencari sumber tambahan agar keluarganya bisa terbebas dari beban ekonomi yang kian hari kian membebani. Hal ini dapat terlihat dari melonjaknya harga sembako yang disebabkan oleh berbagai faktor termasuk semakin meningkatnya permintaan pasar untuk beberapa kebutuhan pokok.
Permintaan pasar terhadap bahan pangan yang akhir-akhir ini semakin meningkat, terutama sejak diluncurkannya program Makan Bergizi Gratis (MBG), membuat Falentinus berpikir keras agar ini dapat menjadi peluang bisnis yang mampu mendatangkan income bagi keluarganya. Permintaan terhadap bahan pokok untuk program ini meningkat drastis, sementara persediaan di daerah tersebut masih sangat terbatas. Untuk itu, bersama istrinya, Falentinus merintis usaha di bidang agribisnis dengan skala kecil untuk memenuhi kebutuhan ini.
Menurut Falentinus, ada lahan cukup besar yang diberikan oleh pemerintah desa agar masyarakat dapat memanfaatkan sebagai sumber penghasilan. Namun selama ini lahan itu tidak dimanfaatkan secara maksimal. Melihat peluang ini, Falentinus memulai usaha pertanian dengan menanam cabai di area seluas 142 x 25 meter. Dengan pengetahuan pertanian seadanya, Falentinus bersama istrinya memulai usaha ini dengan semangat yang bernyala. Menurutnya, semua impian dapat tercapai jika kita segera memulai usaha. Berdiam saja tidak akan menyelesaikan persoalan. Maka ia membagi dua area lahan pertaniannya, dengan menanam cabai secara bertahap. Sebagian ditanami cabai dan dirawat secara baik, mulai dari pembibitan, pebanaman, pemupukan dan pengairan. Setelah prospeknya terlihat baik, Falentinus menggarap sisa lahan dengan menanami cabai. Hal ini juga merupakan salah satu trik bagi Falentinus, agar dapat panen secara bertahap dan berkelanjutan serta dilakukan untuk menekan pengeluaran mengingat mereka tidak menyewa tenaga kerja untuk memanen sekaligus dalam jumlah yang besar. Ataupun jika harus menyewa pekerja untuk panen, mereka tidak terlalu menyewa banyak pekerja.
Alhasil, sejak memulai usahanya 3 bulan yang lalu, Falentinus sudah dapat memanen cabai hasil pertaniannya. Menurutnya, ia sudah enam kali memanen dengan penghasilan lebih dari 25 juta rupiah. Sedangkan untuk tanaman cabai, secara teoritik dapat dipanen sampai 6 bulan secara terus menerus. Itu artinya masih puluhan juta lagi yang akan diperolehnya dari panen selanjutnya. Sedangkan untuk sebagian lahan yang ditanami kemudian, akan mulai dipanen pada bulan Januari tahun depan. Hal ini tentunya merupakan peluang besar bagi Falentinus, mengingat pada bulan itu biasanya harga cabai melonjak. Untuk saat ini, harga cabai berkisar antara Rp. 35.000-Rp.40.000 per kilogram. Maka pada bulan januari nanti, diperkirakan bisa naik lagi harga jual cabai di pasaran.
Ketika ditanya soal laba yang diperoleh dari usaha ini, Falentinus mengatakan bahwa 6 kali panen telah menutupi biaya produksi dan operasional sehingga sisa panen nanti merupakan laba bersih yang diperolehnya. Ia selalu percaya bahwa jika ada niat dan kerja keras, semua impian akan tercapai. Demikian juga halnya dengan mimpi-mimpi yang mereka gantung setinggi langit, dikabukan Tuhan karena usaha, kerja keras dan juga harapan besar dalam setiap untaian doa mereka. Tahun ini merupakan tahun penuh berkat bagi keluarga Falentinus, sebab selain panen cabai yang menjanjikan, sang istri tercinta, Florensiana diterima sebagai pegawai PPPK oleh pemerintah. “Tuhan menjawab doa kami bahkan lebih dari apa yang kami minta,” demikian papar Falentinus dengan penuh syukur.
Melihat peluang besar agribisnis di TTU yang sangat menjanjikan, Falentinus bertekad meluaskan usaha pertaniannya dengaan menanam komoditas penting yang banyak dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan MBG, diantaranya tomat dan buncis. Menurut Falentinus, jika ada kesempatan, jangan disia-siakan, sebab secara ekonomi, peluang bisa saja datang hanya sekali.
Hal ini jugalah yang akhirnya menginspirasi beberapa rekannya untuk memulai usaha yang sama di bidang agribisnis. Beberapa keluarga terlihat sudah mulai menanam cabai dan beberapa komoditas pendukung MBG seperti tomat. Menurutnya, hingga saat ini pemenuhan bahan pokok terutama untuk program MBG di Kabupaten TTU masih tergantung dari bahan pokok di luar kabupaten. Sehingga makin banyak orang memulai usaha pertanian makin besar peluang mendongkrak perekonomian lokal. Untuk itu, Falentinus mengajak seluruh warga TTU yang memiliki lahan tidur agar diberdayakan dengan menanam komoditas penting untuk memenuhi permintaan pasar terutama permintaan dapur MGB yang secara kontinu memerlukan bahan pangan yang fresh dan sehat.
Salah satu rekan yang juga merintis usaha di bidang agribisnis adalah Ferdinandus Neonub yang memulai usaha pertanian dengan menanam tomat di atas lahan pribadinya seluas 148 x 25 meter. Hal ini tentunya memberikan dampak positif bagi peningkatan ekonomi keluarga dan secara umum tentunya akan ikut mendongkrak perekonomian daerah. Menurut Ferdinandus, usaha ini dilakukan tentunya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya danjuga sebagai salah satu upaya meningkatkan keahliannya di bidang pertanian. Ia berharap agar pemerintah dalam hal ini BupatinTTU dalam melihat hal ini sebagai peluang besar di bidang agribisnis dan mendorong pertumbuhan erekonomian di bidang pertanian dengan memperhatikan para petani.
Foto: Ferdinandus Neonub di kebun tomat
Diakhir perbincangan dengan Falentinus, ia mengatakan bahwa masalah terbesarnya saat ini adalah masalah pengairan, sehingga diperlukan bak penampung air yang cukup untuk dapat mengairi lahan pertanian. Untuk itu, ia berharap agar pemerintah dapat memberikan perhatian bagi usaha ini, apalagi semakin banyak petani yanag juga mulai merintis usaha di bidang pertanian di area yang sama. (MTU)
Resah UMKM Beralih Jadi Penjual Barang Impor China, Maman Harus Apa?
Setelah Marketplace, Pemerintah Bakal Incar Pajak dari Media Sosial
Resah UMKM Beralih Jadi Penjual Barang Impor China, Maman Harus Apa?
Setelah Marketplace, Pemerintah Bakal Incar Pajak dari Media Sosial